Selamat Datang di Portal www.general-media.blogspot.com pada hari

Info Terkini

>> SINDORO DAN SUMBING, <<
GUNUNG KEMBAR YANG MENANTANG

Sindoro dan Sumbing merupakan dua Gunung yang letaknya berdekatan, serta memiliki bentuk dan tinggi yang hampir sama. Tinggi Gunung Sumbing sekitar 3.340 m dari permukaan laut (dpl), sedikit lebih tinggi daripada Sindoro (3.155 m dpl).

Jika dipetakan, Sumbing berada disebelah barat daya kota Temanggung dan sebelah Timur kota Wonosobo. Sedangkan Sindoro disebelah barat laut Temanggung danTimur laut Wonosobo. Masyarakat dikedua daerah itu menyebut Sindoro-Sumbing sebagai Gunung kembar. Keduanya menyimpan potensi wisata yang sangat besar, meskipun belum semuanya bisa dikelola secara maksimal.
Selain panorama alam nan indah, dengan udara sejuk dan segar, daerah-daerah dilereng Sumbing-Sindoro potensial dikembangkan sebagai kawasan agro wisata, terutama perkebunan kelengkeng, tembakau, vanila, dan kopi. Kondisi alamnya hampir sama dengan kawasan Gunung Mas, puncak, Bogor.

Gunung yang dipenuhi legenda tentang kesetiaan pasangan dan epos kepahlawanan itu sudah tidak asing lagi bagi para pendaki. Banyak kelompok pecinta alam yang mendaki puncak Sumbing dan Sindoro, terutama pada hari-hari tertentu yang sudah menjadi tradisi.
Dengan berbagai kelebihannya, dinas perhubungan dan pariwisata kabupaten Temanggung berusaha terus menggali potensi-potensi wisata, sambil membenahi sarana-prasarana pendukung dikawasan ini.

Sektor pariwisata, terutama yang berbasis wisata Gunung, bisa dijadikan salah satu primadona unggulan dalam membangun ekonomi kerakyatan di daerah ini. Dinas perhubungan dan Pariwisata berniat mengembangkan kawasan Sindoro dan Sumbing sebagai kawasan wisata terpadu. Terutama dilembah antara Sindoro-Sumbing, dan bagian puncak. Misal dengan menyediakan fasilitas kereta gantung yang menghubungkan kedua gunung itu.
Salah satu kawasan yang diapit lembah Sindoro-Sumbing adalah Kledung, yang dilewati pengguna jalan di jalur Parakan-Wonosobo. Banyak pengguna jalan yang beristirahat di tempat ini, sekedar melihat keindahan panorama alam disekelilingnya yang bisa menyegarkan tubuh dan pikiran. Banyak hal yang bisa dijumpai dilembah gunung itu. Selain keindahan alam, lembah Sindoro-Sumbing juga menawarkan kehangatan dan senyum ramah penduduknya. Terlebih lagi tatkala melihat aktivitas mereka saat musim tambakau tiba.

Panorama alam yang indah dan udara sejuk-segar kini menjadi barang langka diperkotaan, itu sebabnya, mereka sering memanfaatkan hari libur ke objek wisata alam sebagaimana banyak tersedia dikabupaten Temanggung.
Letaknya yang dekat dengan Dataran Tinggi Dieng membuat wisata pendakian Gunung Sumbing dan SIndoro bisa dipromosikan lebih dasyat lagi, misalnya dengan mengundang sebagian wisatawan yang datang ke Dieng untuk berkunjung pulang keTemanggung. Pemerintah kabupaten dan masyarakat Temanggung pun siap memanfaatkan peluang emas ini, demi kesejahteraan masyarakat.

WISATA PENDAKIAN
SALAH satu kegiatan yang sudah berjalan dikawasan Gunung ini adalah wisata pegunungan. Pendakian Sindoro-Sumbing biasanya dimulai dari kledung, yang terletak diantara kedua Gunung. Ditempat ini, para pendaki juga bisa menyaksikan matahari terbit dan terbenam.
Jalur pendakian yang menantang, ritual setiap malam 1 sura (1 muharam) dan malem selikuran (21 Ramadhan), hamparan perkebunan teh, aneka ladang sayur, deretan pohon pinus, dan jalur berliku-liku dilembah kedua gunung itu membuat banyak orang ingin mengunjungi tempat tersebut

GUNUNG SUMBING
Perjalanan wisata ke Gunung Sumbing akan melewati desa wisata Tegalrejo yang juga dekat dengan pemancingan Vale Kambang dan prasasti Gondosuli. Tanah sekitar gunung sangat subur, sehingga hampir seluruh daerah yang landai sampai ketinggian 2.000 m dpl dijadikan areal perkebunan rakyat seperti tembakau dan sayuran.
Pendakian gunung sumbing bisa dilakukan kapan saja. Tetapi puncak keramaian terjadi pada malem selikuran. Ribuan pendaki, yang dipandu para pecinta alam yang berpengalaman dari sumbing Hiking Club (SHC) Temanggung, serta dipantau para petugas terpadu diposko-posko terdekat, mengawali ritualnya dari desa pager gunung, kecamatan Bulu.

Untuk pendakian diluar tradisi malem selikuran, perjalanan bisa dilakukan tanpa harus dipandu petugas. Para pendaki umumnya start dari desa/kecamatan kledung (arah barat laut), atau kampung butuh dan selogowok dikecamatan tlogo mulyo (timur laut).
Bahkan, gunung sumbing juga bisa didaki dari kawasan diluar kabupaten Temanggung. Yaitu arah barat laut dari kampung garung (1.543 m dpl) di desa Butuh, kecamatan Kalijajar (Wonosobo), arah tenggara dari Kalegan (Kabupaten Magelang), dan arah Barat daya dari sapurun (Wonosobo).

Apabila cuaca bagus, pendakian ke puncak menempuh waktu sekitar lima jam. Sebagian dari mereka berziarah kemakam Ki Ageng Makukuhan di Puncak Sumbing. Ki Ageng Makukuhan diyakini sebagai orang pertama yang singgah di Kedu dan memperkenalkan tanaman tembakau.
Ada beberapa pos yang harus dilalui dari base camp hingga kepuncak, yaitu pos I (1.750 m dpl), pos II (2.000 m dpl),pos bayangan (2.500 m dpl), dan bagian puncak (2.850-3.340 m dpl).

GUNUNG SUMBING
Nama : Gunung Sumbing
Nama Kawah : Kawah Sumbing
Lokasi : Desa Pager Gunung, Kecamatan Tjepit, Kabupaten Temanggung
Ketinggian : 3. 340 m dpl
Wilayah : Kabupaten Temanggung, Magelang, Wonosobo dan Purworejo.
Kota Terdekat : Temanggung (Timur laut), Parakan (Utara), Wonosobo (Barat), dan Magelang (Tenggara).
Tipe Gunung : Gunung Api strato tipe B
Pos Pengamatan : Desa Genting Sari, Parakan-Temanggung pada Ketinggian 950 m dpl.

Dipos I (hutan rapat) terdapat shelter dan lahan bivak. Sedangkan pos II (Wilayah Terbuka) didominasi padang rumput dan ilalang. Udara dipuncak cukup panas, angin kencang, dan cuaca cerah, dengan suhu dibawah 12 derajat Celciuse. Puncak terdiri atas batu-batuan, lapangan berpasir, kawah, dan belerang.

GUNUNG SINDORO
Setiap malam 1 sura, ribuan pecinta alam melakukan pendakian Sindoro. Gunung berketinggian 3.151 m itu juga memiliki beberapa keindahan alam, misalnya Telaga Ajaib dan bunga Abadi edelwis di puncak gunung. Para pendaki juga bisa melihat panorama terbit dan tenggelamnya matahari.
Sebagaimana Sumbing, Sindoro cocok untuk melakukan kegiatan wisata alam dan petualangan. Pendakian dilakukan melalui Desa Katekan, Kecamatan Ngadirejo, Temanggung. Selain panorama alam yang indah, pendaki bisa melihat para aktivitas petani di kebun.

GUNUNG SINDORO
Nama : Gunung Sindoro
Nama Kawah : Kawah Sindoro
Lokasi : Desa Katekan, Kecamatan Ngadirejo, Kabupaten Temanggung
Ketinggian : 3.155 m dpl
Wilayah : Kabupaten Temanggung, dan Kabupaten Wonosobo.
Kota Terdekat : Temanggung (Tenggara), Parakan (Timur), Wonosobo (Barat).
Tipe Gunung : Gunung Api strato tipe B

PUNCAK WONOTIRTO
Di Lereng Gunung Sumbing, di sebuah desa di Kecamatan Bulu, ada kawasan wisata yang cukup digemari, yaitu Puncak Wonotirto. Sepanjang jalan menuju lokasi, wisatawan bisa memandang hutan pinus dari kejauhan dan hamparan tanaman tembakau. Para penggemar wisata pegunungan tentu sangat menyukai suasana seperti ini.
Dari kawasan puncak, kita bisa memandang lepas ke berbagai penjuru. Termasuk pada ujung Gunung Sumbing dan Gunung Sindoro. Hal itu dimungkinkan karena Puncak Wonotirto berada di ketinggian 1.900-2.000 m dpl.
Untuk menuju lokasi lereng, wisatawan dapat menggunakan sepeda motor atau mobil. Tetapi sekitar 3 km sebelum puncak, perjalanan harus dilanjutkan dengan jalan kaki. Pemerintah Kabupaten Temanggung sudah menanami 16.000 ha lahan kritis dikawasan ini, dengan aneka komoditas pertanian.

MISTERI POHON WALITIS DI HUTAN RASAMALA
Pohon walitis di kawasan huitan Rasamala merupakan pohon terbesar di lereng Sumbing dan Sindoro. Hutan ini terletak di Desa Jetis, Kecamatan Selopampang, Tinggi pohon mencapai 30 meter, dengan lingkar batang 7,5 meter. Untuk memeluk batangnya saja diperlukan enam orang dewasa yang saling tautan sambil merentangkan kedua tangannya.
Menurut masyarakat sekitar, pohon ini berasal dari tongkat salah seorang pengikut wali, yaitu Ki Ageng Makukuhan yang ditancapkan di tanah. Kawasan Walitis memiliki pemandangan alam yang indah dan udara pegunungan yang segar dan alami.

Di Kawasan ini juga tumbuh rumpun tumbuhan bernama Rasamala. Karena itulah, kawasan tersebut dikenal sebagai hutan Rasamala. Keistimewaan tanaman dan hutan ini adalah tidak mempan oleh api.
Ketika terjadi kebakaran hutan di sebagian kawasan lereng Sumbing dan Sindoro beberapa waktu lalu, hutan Rasamala sama sekali tidak terjamah api.

Untuk menjangkau rumpun pepohonan Rasamala yang luasnya mencapai 1,5 hektar, para wisatawan harus mendaki melalui jalan setapak. Jarak pendakian ini sekitar 1,5 km dari pohon walitis.

PROSPEK PENGEMBANGAN
Melihat potensinya yang besar, kawasan Sindoro-Sumbing bisa dikembangkan menjadi kawasan wisata andalan di jateng. Peluang yang bisa digarap antara lain:
- Membangun fasilitas kereta gantung din lereng utara gunung Sumbing, tepat di Kledung Pass.
- Membangun hotel/restoran di jalur strategis, terutama Kledung.
- Pembangunan kawasan agrowisata Kledung Pass.
- Membangun bumi perkemahan dan camping ground di kawasan Walitis, untuk mewadahi kegiatan para pemuda di Jawa Tengah.
- Membangun kawasan khusus (adventure zone) di Kledung Pass.
- Mendirikan event organizer khusus yang menyelenggarakan berbagai kegiatan pecinta alam dan outbond.
- Menciptakan lebih banyak lagi desa-desa wisata.


>> Pikatan Water Park <<
PRIMADONA BARU DARI TEMANGGUNG

Sangat mudah dijangkau. Dari terminal induk Kowangan Temanggung, Pikatan Water Park hanya berjarak dua kilometer. Dengan menumpang angkutan umum yang jumlahnya cukup banyak, setiap penumpang dikenai tarip Rp.2.000,- melewati jalur yang cukup bagus, perjalanan terminal – Pikatan yang pendek ini cukup memikat, karena melewati persawahan yang luas dan jalan yang lebar. Ketika cuaca bersahabat, dari beberapa titik ini pelancong dapat menyaksikan gunung Merapi, Merbabu, Andong, Telomoyo dan gunung Ungaran.
Mulai dari terminal inilah kelak kawasan Pikatan Water Park akan dikembangkan. Menurut Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olah Raga, Bekti Prijono, saat ini sudah banyak masyarakat yang “ancang-ancang” untuk memanfaatkan jalur terminal - Pikatan menjadi jalur wisata. Mereka, ujarnya banyak yang memanfaatkan lahan miliknya untuk rumah makan, kios cinderamata, kios oleh-oleh bahkan untuk tempat parkir.
“Itulah yang diharapkan Bupati Temanggung. Membangun kawasan wisata memang jangan tanggung-tanggung. Tujuan utama pemerintah memang untuk melayani masyarakat dalam kebutuhan hiburan. Tetapi, efek langsungnya adalah peningkatan PAD tanpa harus menambah beban masyarakat, tetapi justru memacu dan mengembangkan gairah dunia usaha mikro dan kecil” katanya.

Ditambahkan, rencananya, pada bulan Maret-April 2009 wisata air itu akan dioperasionalkan. Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olah Raga telah diberi kesempatan oleh Hasyim untuk mengembangkan Pikatan sesuai dengan selera wisatawan yang terus berubah. Saat ini di Pikatan Water Park telah dibangun 10 buah waterslide sepanjang lima sampai 50 meter, lima buah kolam termasuk kolam prestasi, mainan ember tumpah, permainan sliding sepanjang 21 meter serta jembatan goyang.
Hari-hari ini, Dinas itu bahkan tengah merancang untuk menambah permainan petualangan baru yakni Flaying Fox dengan ketinggian sekitar 10 meter. Diharapkan, pada akhir tahun ini atau tahun depan, Pikatan Water Park akan memiliki arena panjat tebing. “Kami juga sedang melobi warga serta beberapa perusahaan di sekitar Pikatan untuk terlibat langsung sebagai pelaku wisata. Jika usaha ini berhasil, banyak orang memimpikan disana bisa dibangun danau buatan, taman pintar, arung jeran mini dan sebaginya. Yang pasti, lokasi yang ada sangat memungkinkan untuk semua itu. Kondisi dan Gravitasi kawasan Pikatan sangat ideal untuk arung jeram, danau buatan atau apapun jenis permainan yang sifatnya mendidik dan menantang” katanya.
Di sisi lain ia menyadari bahwa keadaan keuangan Pemerintah Kabupaten Temanggung sulit sekali untuk memacu guna mewujudkan “mimpi-mimpi” itu. Oleh karenanya, Pemkab Temanggung membuka kesempatan yang luas kepada pihak ketiga untuk turut serta mengembangkan kawasan Pikatan, baik kulinernya, wisata alamnya, atau permainan-permainan lain yang baru.
Memang, banyak kalangan menilai pengembangan Pikatan yang semula hanya merupakan lokasi kolam renang akan mampu berpacu dengan lokasi wisata lain yang sejenis. Pemikiran ini cukup logis mengingat pada radius 60 km dari Temanggung belum ada lokasi wisata seperti di Pikatan. Apalagi, Pikatan memiliki daya tarik alamiah yang sangat besar. Dari kawasan ini dapat dilihat dengan jelas gunung Merapi, Merbabu, Andong dan Telomoyo. Air di sana sangat melimpah dan jernih. Selain itu, lokasi Pikatan sangat dekat dengan kota dan mudah dijangkau serta infrastrukturnyapun sudah memadahi untuk jangka waktu 10 tahun ke depan.

Saat ini, SKPD terkait dengan pariwisata tampak terus melakukan pembenahan-pembenahan di tempat itu. “Untuk tahun ini kami konsentrasi melakukan pembenahan di dalam areal taman. Kalau ada dana, mungkin pertengahan tahun ini atau pada perubahan Tahun Anggaran 2009 nanti, kami mulai mengerjakan kawasan parkir. Ini dibutuhkan biaya besar karena arealnya luas sekali. Syukur-syukur tahun ini kami sudah bisa mengembangkan lokasi Pikatan karena sekarang baru mencapai 1,5 hektar saja” ujar mantan Kabag Humas.
Tidak berlebihan kiranya apabila Pemkab Temanggung mengandalkan Pikatan Water Park menjadi wisata unggulan dimasa depan dan ikon dunia wisata daerah itu. Semua persyaratan yang dibutuhkan sudah terpenuhi, komitmen pimpinan cukup kuat dan ada dukungan dari para pelaku wisata termasuk kalangan staf yang memiliki dedikasi tinggi. Bukanlah sebuah mimpi, apabila Pikatan Water Park diproyeksikan akan menjadi primadona baru dunia wisata di Jawa Tengah.

>> JUMPRIT <<

SEJARAH DAN LEGENDA
Dulu keberadaan Umbul Jumprit hanya diketahui oleh kalangan tertentu saja. Tetapi sejak awal 1980-an, jumlah pengunjung terus meningkat, terutama mereka yang ingin berziarah ke makam Ki Jumprit dan mandi kungkum di Umbul Jumprit. Pada tanggal 18 Januari 1987, Pemerintah Kanupaten Temanggung menentapkan Jumprit sebagai Kawasan Wanawisata. Setahun kemudian, Kawasan itu diresmikan Gubernur Jawa Tengah (saat itu HM Ismail).
Namun Jumprit sudah disebutkan dalam serat Centini, terutama dikaitkan dengan legenda Ki Jumprit yang merupakan ahli nujum di Kerajaan Majapahit. Ki Jumprit bukan hanya dikenal sakti mandraguna, tetapi juga salah seorang putra Prabu Brawijaya, Raja Majapahit.
Dia meninggalkan kerajaan, agar bisa mengamalkan ilmu dan kesaktiannya kepada masyarakat luas. Perjalanan panjangnya berakhir di Desa Tegalrejo, Kecamatan Ngadirejo Kabupaten Temanggung.
Beberapa tokoh masyarakat meyakini, Ki Jumprit adalah leluhur dari masyarakat Temanggung yang tersebar di lereng Gunung Sindoro dan Sumbing. Namun hal ini masih memerlukan kajian mendalam, terutama dari aspek kesejarahan.
Yang pasti ada beberapa lokasi yang diyakini sebagai petilasan KI Jumprit. Makamnya pun berada tak jauh dari Umbul Jumprit. Dua lokasi inilah yang kerap dikunjungi peziarah, terutama komunitas tertentu yang terbiasa melakukan tirakat.
Sebagai ahli nujum, Ki Jumprit pernah meramal suatu saat nanti Temanggung akan menjadi daerah makmur. Sebagian ramalannya terbukti benar. Petani di lereng Sumbing dan Sindoro relative hidup berkecukupan melalui tanaman tembakau. Komoditas ini mulai popular sejak awal tahun 1970-an.
Tingkat pendidikan dan derajat kesehatan masyarakat di Temanggung pun termasuk kelompok apan atas di Jawa Tengah, terutama jika dibandingkan dengan Kabupaten lainnya. Meskipun komoditas tembakau tidak lagi secemerlang dulu, kesejahteraan masyarakat Temanggung masih di atas rata-rata masyarakat Jawa Tengah.

EKSOTISME WANAWISATA JUMPRIT
Wanawisata Jumprit merupakan salah salah satu obyek wisata yang eksotis di Kabupaten Temanggung. Tempat ini buka sekadar menawarkan wanawisata (wisata hutan) saja, tetapi juga menghadirkan objek wisata alam pegunungan yang indah.
Awal keramaian obyek wisata ini terjadi sejak awal 1980-an, ketika banyak peziarah yang melakukan wisata spiritual di Makam Ki Jumprit di dekat Umbul Jumprit yang letaknya bersebelahan. Mereka bersemedi di sekitar makam, kemudian diakhiri mandi kungkum di mata air yang tak pernah kering.
Kawasan ini berada di ketinggian 2.100 meter dari permukaan laut (dpl) dan berada di lereng Gunung Sindoro tempatnya di Desa Tegalrejo, Kecamatan Ngadirejo. Jaraknya hanya sekitar 26 km dari barat laut kota Temanggung.
Kawasan Jumprit berada di jalur strategis, yaitu jalur wisata Borobudur-Dieng, Semarang-Bandungan-Dieng, serta dari berbagai arah dengan kemudahan aksesibilitas, baik dari Wonosobo, Kendal, Maupun Yogyakarta. Perjalanan juga bisa ditempuh dengan kendaraan umum dari ibu kota Kecamatan Ngadirejo. Lebih baik lagi menggunakan kendaraan pribadi. Jalan menuju lokasi sudah diaspal, sehingga perjalanan cukup menyenangkan. Apalagi dalam perjalanan menuju Jumprit, wisatawan juga bisa menikmati panorama alam pegunungan yang indah dan agrowisata sayuran.
Jika ingin menginap dikawasan ini juga tersedia wisma Perhutani atau bisa juga mendirikan tenda di bumi perkemahan.
Wisatawan bisa menikmati udara segar dan indahnya pemandangan saat matahari terbit. Karena berada di lereng Sindoro, hawa ditempat ini cukup dingin. Airnya juga dingin, jernih dan menyegarkan. Wisatawan yang bermalam dianjurkan membawa jaket.
Jika datang pada siang hari pun, pengunjung masih bisa merasakan sisa-sisa kesejukan saat memasuki kawasan hutan. Banyaknya belantara pepohonan dan letaknya yang berada di lereng Sindoro membuat hawa panas sepertinya enggan menyapa tempat tersebut.
Wisatawan juga bisa bersau dengan sekawanan burung di alam bebas, yang akan selalu menyambut dengan ocehan yang saling bersahutan. Atau bertemu sekawanan kera liar (sekitar 25-30 ekor) di lokasi wanawisata. Konon populasi kera ini tidak pernah bertambah atau berkurang.

UMBUL JUMPRIT
Pada sebuah kawasan yang agak mendatar, di antara rerimbunan pohon, terlihat bangunan menyerupai candi. Langgam arsitekturnya mirip dengan bangunan peninggalan Majapahit di Mojokerto (Jawa Timur).
Bangunan yang telah berumur ratusan tahun itu menjadi gerbang dari sebuah tempat yang dikeramatkan. Tetapi ia bukanlah gerbang utama yang sudah dilalui sebelum tiba di bangunan mirip candi tersebut.
Di balik bangunan itulah terdapat Umbul Jumprit. Air dari umbul ini juga dimanfaatkan penduduk sekitar untuk keperluan sehari-hari, termasuk mengairi sawah dan kebun. Keberadaan umbul di antara belantara hutan juga menghadirkan panorama alam yang sungguh indah. Benar-benar menghibur hati ketika berada di antaranya.
Mata air ini ridak pernah kering, meski saat kemarau panjang. Airnya sangat dingin (walau pada siang hari) serta sangat jernih, karena berasal dari sumber di pegunungan. Air inilah yang juga “mengisi” sungai Progo.
Banyak peziarah yang bermeditasi dan mandi kungkum di sini. Puncak keramaian perziarah biasanya terjadi pada dua hari keramat “Selasa Kliwon dan Jumat Kliwon”. Apalagi jika waktu sudah meninggalkan pukul 24.00.
Seusai kungkum, mereka membuang pakaian dalam sebagai symbol membuang sial, sekaligus berharap rezeki baru bakal datang.
Malam 1 Suro juga sangat ramai, didukung atraksi wisata di SendangSidukun, yaitu tradisi Suran Traji dengan aneka ritual menebar Jimat Pengantin Lurah Traji. Upacara ini sudah dilakukan ratusan tahun lalu, yaitu berupa kirab lurah.
JUmprit juga menjadi tempat yang disucikan umat Budha di Indonesia. Setiap berlangsung upacara Trisuci Waisak di Candi Borobudur, air keberkahan selalu diambil dari umbul tersebut.
Biasanya pengambilan air suci dilakukan tiga hari sebelum prayaan waisak. Berbagai tradisi yang masih lestari ini bisa dijadikan salah satu modal pendukung wisata Jumprit. Air Jumprit dipercaya sebagian orang bisa membuat awet muda, enteng rezeki, dekat jodoh dan sarana membuanag sial.
Di dekat mata air terdapat maka Ki Jumprit, sosok ahli di Kerajaan Majapahit, yang selalu ramai dikunjungi peziarah untuk keperluan meditasi dan mandi kungkum.

POTENSI ARUNG JERAM
Pemerintah Kabupaten Temanggung berencana mengembangkan kawasan wisata Jumprit, dan sudah membuat proposal pengembanganya, di mana kawasan ini dibagi menjadi empat zona pada areal seluas 80 ha.
Zona I dirancang untuk area parkir, panggung terbukam danau buatanm serta pemandian (tempat kungkum). Zona II untuk arena pacuan kuda, tempat parker, pasar buah/sayur, dan kios cendera mata. Sedangkan buki perkemahan dan hutan wisata berada di Zona II. Zona IV untuk hotel, wisma, kolam renang dan restoran.
Zonaisasi ini membuka peluang bagi calon investor untuk ikut serta mengembangkan potensi wisata di kawasan Jumprit. Sebab kawasan ini memang menjanjika. Di luar item-item yang terangkum dalam zonaisasi itu , masih ada beberapa alternative lain yang bisa ditawarkan Disbudparpora (Dinas Budaya, Pariwisata, Pemuda dan Olah Raga) Kabupaten Temanggung.
Misalnya potensi agrowisata dan wisata arung jeram. Kalau Magelang dan Kulonprogo bisa menciptakan wisata arum jeram di Kali Progo, mengapa Temanggung yang juga memiliki sungai itu tidak melakukan hal serupa? Bahkan, Air jernih yang mengalir deras di Kalo Progo berasal dari Umbul Jumprit.
Arum Jeram kini menjadi tren Kawula muda di berbagai kota di Indonesia. Tak heran jika wisata dengan minat khusus ini berkembang pesat pula di Wonosobo, Banjarnegara dan Banyumas dengan memanfaatkan Sungai Serayu.
Saya sekali jika para pemilik kapital tak melirik potensi besar di Jumprit. Pengembangannya dapat dimulai dari jembatan Kali Progo di Kranggan. Artinya calon penikmat arung jeram bisa start dari sana. Lokasi ini dekat dengan jalan raya, sehingga tidak sulit bagi pengelola untuk menggotong perahu karet.
Tempat ini juga lapang dan datar, dengan arus sungai yang sedang dalam keadaan normal. Panorama alamnya juga indah.
JIka dibangun sarana prasarana baru, kawasan Jumprit bisa menjadi obyek wisata andalan di Jawa Tengah. Diperkirakan mampu menarik minat wisatawan yang bekunjung ke Candi Borobudur (Kabupaten Magelang) serta Dataran Tinggi Dieng (Wonosobo/Banjarnegara) karena Jumprit berada di Jalur wisata strategis tersebut.

>> CANDI PRINGAPUS <<

Obyek wisata lain di Kabupaten Temanggung yang menarik dikunjungi adalah Candi Pringapus. Sebagaimana candi-candi lainnya, Candi Pringapus tidak hanya menawarkan wisata arkeologi, tetapi juga wisata sejarah, wisata budaya dan wisata pendidikan.

Sesuai dengan namanya, candi ini terletak di Desa Pringsurat Kecamatan Ngadirejo sekitar 22 Km dari arah barat lauta Kota Temanggung. Umurnya sudah cukup tua, yang diperkirakan dibangun pada tahun 850 dan rampung dua tahun kemudian.

Arca-arcanya bercorak Hindu Siwaistis. Jika dicermati, bentuk bangunanya merupakan replika Mahameru yang menjadi lambang tempat tinggal para dewata. Hal ini bisa dibuktikan dari adanya hiasan antefiq dan relief hapsara-hapsari yang menggambarkan makhluk setengah dewa.

Candi Pringapus mengingatkan kita pada candi-candi yang ada di Dataran Tinggi Dieng, Kabupaten Wonosobo dan Candi Gegongsongo di Desa Candi Kecamatan Bandungan Kabupaten Semarang.
Bentuknya hamper sama, Kebetulan ketiga komplek candi ini berada di kawasan yang berdekatan, sehingga memiliki banyak kesamaan, baik dalam bentuk maupun kebudayaan masyarakat saat itu. Komplek Candi Gedongsongo di Sebelah Utara Candi Pringapus dan komplek Candi Dieng di sebelah baratnya.

KARAKTERISTIS CANDI
Sebagaimana candi-candi di Dieng dan Gedongsongo, seluruh bagian depan dinding Candi Pringapus dalam kondisi tertutup.Bagaimana yang terbuka hanya dinding sebelah barat, berfungsi sebagai pintu keluar masuk. Bentuknya menyerupai altar dan terlihat gagah. Di sisi kiri dan kanan pintu terdapat relief nan indah, menggambarkan sepasang dewa dari kahyangan.
Di bagian dalam, pengunjung bisa melihat nandi berukuran besar, yang menjadi sandaran Dewa Siwa. Tinggi Nandi melebihi tinggi pintu, sehingga diperkirakan dibuat erlebih dahulu sebelum proses pembangunan pintu.

Berbeda dengan Candi Gondosuli yang sudah tidak terlihat bentuknya Candi Pringapus relief masih utuh.
Karakteristiknya yang unik membuat banyak wisatawan asing datang ke sini, terutama dari Belanda, Belgia dan AS. Saat liburan, tempat ini ramai dikunjungi wisatawan dari berbagai daerah termasuk anak-anak sekolah.
Candi Pringapus pertama kali disebut Junghuhn dalam daftar reruntuhan candi-candi Jawa, yang didasarkan pada gambar Hoepermans. Setelah itu, gambar diperbarui oleh Brandes, Van Erp (1909) dan Knebel (1911).

Situ ini juga terkait dengan Candi Perot yang ada di dekatnya (sekitar 300 meter), yang runtuh akibat badai besar tahun 1907 (kini hanya terlihat pondasi saja). EMpat tahun sebelumnya, sejumlah arkeolog asing melakukan studi terhadap Candi Perot dan menyusun gambarnya.

MISTERI PERTANGGALAN CANDI
Kapan Candi Pringapus dibangun? Ada yang menyebutkan tahun 850, 852 bahkan ada juga yang memperkirakan tahun 900 atau sesudahnya. Menurut seorang arkeolog, Djulianto Susanto (Menentukan Pertanggalan Candi; 2003), sampai kini belum ada kesimpulan yang pasti mengenai kapan suatu candi mulai dibangun atau didirikan. Dari berbagai data arkeologi, tidak satu pun yang menyiratkan informasi suatu tarikh secara akurat.

Karena itu, ertanggalan yang diberikan para arkeolog selalu diimbuhi kata-kata “kemungkinan (besar” atau “ diperkirakan didirikan pada abad kesekian pada masa kerajaan anu”. Bukan “didirikan pada tahun sekian oleh raja anu”.
Arkeolog Belanda EB Vogler pernah melakukan penelitian terhadap hiasan kala makara diatas pintu candid an sejarah politik kerajaan-kerajaan di Jawa Tengah. Hasilnya dipetakan menjadi lima periode pertanggalan yaitu :
a. Periode I, yaitu masa sebelum tahun 650. Ia memperkirakan, ketika itu sudah ada bangunan ang terbuat dari bahan-bahan yang mudah rusak dan lapuk sehingga tanda-tanda arsitekturalnya tidak tersisa lagi.
b. Periode II (650-760), yang terjadi pada masa pemerintahan Raja Sanjaya dari Kerajaan Mataram Hindu. Gaya bangunan dipengaruhi oleh arsitektur Pallawa yang berasal dari India Selatan. Bangunan-bangunan candi dari periode ini pun sudah rusak, dan tidak mudah teridentifikasi.
c. Periode III (760-812), pada masa Dinasti Syailendra. COntoh bangunannya adalah Candi Borobudur, Pawon, Mendut, Kalasan dan sari.
d. Periode IV (8120\-928), Pengaruh asing terutama gaya Chandiman (India) mulai memperkaya unsure-unsur candi. Contohnya antara lain Prambanan, sariwanm Plaosan dan Ngawen.
e. Periode V, yang berlangsung tahun 928 hingga akhir masa Hindu-Jawa. Bangunannya merupakan perkembangan dari gaya-gaya sebelumnya. Bangunan dari periode ini mulai diperkaya dengan unsur-unsur kesenian Jawa Timur, terutama bentuk kala. Contoh bangunannya antara lain Candi Pringapus, Sembodro, Ratna dan Srikandi.

>> PRASASTI GONDOSULI <<

Prasasti Gondosuli merupakan salah satu obyek wisata sejarah, bahkan bisa disebut paling bersejarah di Kabupaten Temanggung. Dari tempat inilah wisatawan bisa memperoleh gambaran mengenai kehidupan social budaya masyarakat Temanggung tempo dulu.
Prasasti ini terletak di Desa Gondosili Kecamatan Buu. Jaraknya hanya sekitar 13 km arah barat etm. Diulis pada tahun 832, sesuai dengan candrasengkala yang ada, Prasasti Gondosuli menjadi saksi bisu kejayaan Dinasti Sanjaya, terutama di masa pemerintahan Rakai Patahan (Rakaryan Patapan Pu Palar) sebagai raja di Mataram Hindu (Mataram Kuno).
Nama Rakai Patapan juga dapat dijumpai dalam Prasasti Karang Tengah yaitu ditulis pada tahun 824. Secara keseluruhan luas lokasi situs ini sekitar 4.992 m2.
Untuk menjaga keutuhannya disekeliling prasasti diberikan bangunan beratap seng dan diberi pagar keliling dari bersi. Hai ini dilakukan untuk menjaga keamanan dan lebih memberi perlindungan kepada benda yang sangat bersejarah tersebut.

BERWISATA KE MASA LALU
Prasasti adalah segala bentuk tulisan ynag digoreskan atau dipahatkan pada batu, lontar, logam dan benda keras lainnya, yang menyimpan berbagai sumber sejarah di masa lalu. Sebagian besar sejarah Indonesia pun bisa direkam dengan baik setelah adanya penemuan sejumlah prasasti di berbagai daerah.
Dalam prasasti selalu terdapat informasi tentang kejadian di masa lalu. Misalnya pembebasan tanah bagi wilayah-wilayah yang ditetapkan dalam prasasti, penetapan tanah perdikan, perebutan tanahm pembagian kekayaan, puji-pujian kepada air suci yang jernih, angka yang menunjuk tahun tertentu dan sebagainya.
Berdasarkan penelitian Prasasti Gondosuli memuat 11 baris tulisan, ditulis dengan huruf Jawa Kuno, tetapi menggunakan bahasa Melayu Kuno. Bahkan bentuk tulisannya mirip prasasti-prasasti di daerah Sriwijaya Andalas (Sumatera).
Prasasti Gondosuli ditulis/dipahat pada batu besar dengan panjang 290 cm, lebar 110 cm dan tinggi 100 cm, sedangkan bidang yag ditulis berukuran 103 x 54 cm2.
Pada baris pertama terdapat tulisan “Nama Syiwa Om Mahayana, sahin mendagar wa’zt tanta pawerus darma”. (Bakti kepada Desa Siwa, Om Mahayana (Orang Besar). Di semua batas hutan pertapaan, tua dan muda, laki-laki dan perempuan, mendengarkan hasil pekerjaan/ perbuatan yang baik).
Prasasti ini berisi penghibahan tanah, dimana tanah itu digunakan untuk bangunan suci/ candi, serta untuk memperingati pembangunan patung raja (Hyang Haji) disebuah preseda yang disebut Sang Hyang Wintang.

CANDI GONDOSULI
SELAIN prasasti, ditemukan pula reruntuhan bebatuan candi yang berserakan disekitarnya. Belum diketahui berapa luas candi tersebut, karena bentuknya sudah tidak utuh lagi.
Batu-batu yang berserakan itu diperkirakan hanya bagian atas candi, sedangkan sebagian besar bangunan candi terpendam dalam tanah. Pernah ada upaya dari pihak terkait, yaitu Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Jawa Tengah, untuk melakukan penggalian. Tapi upaya ini dihentikan karena tanah diatas bangunan candi yang terpendam digunakan untuk pemakaman umum. Bahkan ada makam seorang tokoh agama, Kiai Rofi’I, yang dikeramatkan oleh penduduk setempat.
Ahli purbakala dari Australia, Prof Dr JG Casparis, menduga candi Gondosuli dibangun pada abad ke-9. Casparis juga memperkirakan kalau bentuk bangunan candi ini tidak berbeda jauh dari bangunan-bangunan candi yang dibangun pada abad tersebut dan berada disekitarnya.
Candi-candi yang dimaksud Casparis antara lain puluhan candi di Dieng, candi Gedongsongo, dan candi Pringapus di Temanggung. Candi Gondosuli, yang berasitektur Hindu, diperkirakan juga dibangun Rakai Patapan. Ia merupakan salah seorang anak dari sanjaya, raja pertama Mataram Hindu. Rakai Patakan sendiri merupakan raja ke-5.

PROSPEK PENGEMBANGAN KAWASAN GONDOSULI
LOKASI situs Prasasti Gondosuli relatif mudah dijangkau, karena ada fasilitas jalan selebar 6 meter dan beraspal. Selain itu, banyak angkutan umum yang melewati kecamatan Bulu, Kabupaten Temanggung.
Misalnya angkutan umum dengan rute Magelang-Secang-Temanggung-Wonosobo dan sebaliknya, atau Semarang-Secang-Temanggung-Wonosobo dan sebaliknya.
Begitu memasuki desa Gondosuli, suasana pedesaan sangat terasa menyambut pengunjung. Apalagi pada sisi kanan dan kiri jalan terhampar tegalan-tegalan luas, yang ditanami berbagai macam tanaman perkebunan. Mulai dari Tembakau, Cengkeh, dan sebagainya.
Tak jauh dari pintu gerbang objek wisata Situs Prasasti Gondosuli, terlihat pegunungan, rumah-rumah, perkampungan, dan area persawahan yang hijau membentang luas dan berlapis-lapis, sehingga terlihat Artistik. Secara keseluruhan, panorama alam khas pedesaan ini sangat indah, dibalik udara sejuk yang menyegarkan.

Jika berangkat dari Secang, maka sekitar 12 km selepas dari kota temanggung, Anda akan menjumpai jalan simpang di kota kecamatan Bulu (RS Ngesti Waluyo). Dari sini, perjalanan diteruskan sekitar 3 km menuju lokasi Situs yang berada ditengah-tengah perkampungan dan tegalan.

Prospek pengembangan Wisata di Desa Gondosuli cukup cerah. Selain bisa dijadikan Wisata Pendidikan dan Wisata Sejarah, kawasan ini juga bisa disinergikan dengan genre-genre Wisata baru. Misalnya Wisata Belanja. Apalagi sebagian warga Desa Gondosuli menjadi perajin tas mendong dan akar wangi. Kerajinan ini bisa ditularkan kepada warga Desa lainnya, kemudian dibuat klaster-klaster. Tanaman mendong dan akar wangi di tenun dan dijadikan tas wanita, keset, tempat kosmetik, tempat pakaian kotor, dan berbagai peralatan rumah tangga lainnya yang menarik dan artistik.

>> TAMAN REKREASI KARTINI <<

Sampai saat ini, taman rekreasi kartini masih menjadi ikon pariwisata di kabupaten temanggung. Objek wisata ini mudah dikenali, karma berada di pintu masuk kabupaten temanggung sebelah timur (dari arah secang dan semarang).
Pengguna jalan dari kedua arah ini akan menjumpai pintu gerbang taman rekreasi kartini disebelah kanan jalan. Karma letaknya strategis, objek wisata ini sering dijadikan tempat rehat pengguna jalan dengan kendaraan pribadi, setelah menempuh perjalanan luar kota. Tidak sedikit pula travel yang memberhentikan kendaraannya disini.
Fasilitas yang tersedia cukup komplet untuk sebuah tempat rekreasi umum, antara lain rumah makan puja sera, kolam renang tirto asri, arena bola basket, lapangan tennis, lapangan voli, hingga lapangan sepak bola.ada juga arena permainan anak, panggung kesenian, dan warung souvenir.

Setiap akhir pekan, apalagi pada musim liburan, kawasan ini ramai dikunjungi wisatawan lokal maupun dari luar kota. Puncak keramaian terjadi pada musim lebaran, karena pengelola taman rekreasi kartini rutin menggelar gebyar pekan syawalan yang berlangsung selama 7 hari sejak tanggal 2 syawal. Banyak atraksi wisata yang ditampilkan, termasuk aneka makanan tradisional khas temanggung, pentas musik dangdut, dan lain sebagainya.

PELUANG INVESTASI
TAMAN Rekreasi Kartini merupakan salah satu dari sedikit objek wisata buatan di kabupaten temanggung. Ada keunggulan dan kelemahan dari objek wisata buatan.
Keunggulannya adalah lebih mudah menambah wahana pelengkap wisata, karena relative tidak berbenturan aspek sosial-budaya masyarakat sekitar. Namun kelemahannya, jika kondisinya tidak berubah dari tahun ke tahun, maka pengunjung yang pernah datang kesana mudah jenuh dan enggan datang kembali.
Oleh karena itu, pengelola taman rekreasi kartini secara rutin menambah fasilitas dan wahana permainan baru yang digandrungi masyarakat. Beberapa waktu lalu, objek wisata ini juga menambah arena bermain anak, bantuan dari bank jateng.
Masih banyak peluang investasi yang dapat dikembangkan ditempat ini, antara lain:
a. Menyelenggarakan wisata keliling dengan kereta api (loko) mini, mengelilingi kawasan wisata ini.
b. Membangun wahana permainan baru bagi anak-anak yang bersifat menantang. Misalnya jembatan gantung, flying fox (tali luncur), dan sejenisnya.
c. Menambah fasilitas baru dikolam renang, misalnya jalan setapak dan bebatuan kecil (serupa kerikil) untuk pijat refleksi pada telapak kaki pengunjung. Bisa juga membangun kolam pesta air yang didalamnya berisi aneka permainan air (becak air, bebek air, bantal air), kolam arus dan sebagainya.

Dengan penambahan fasilitas dan wahana permainan baru, idealnya 1-2 tahun sekali, diyakini taman rekreasi kartini tetap mampu menyedot kunjungan wisatawan, baik wisatawan lama maupun wisatawan baru dari berbagai daerah.

>> MONUMEN METEORIT <<

Monumen meteorit merupakan objek wisata pendidikan yang jarang dijumpai di daerah lain. Objek wisata ini terletak di Desa Wonotirto, Kecamatan Bulu, yang berada di kaki Gunung Sumbing.
Monumen ini dibangun untuk menandai peristiwa alam jatuhnya meteor di ladang penduduk di Desa Wonotirto, pada hari jum’at tanggal 11 Mei 2001, sekitar pukul 09.00. jatuhnya meteor ini sangat mengejutkan masyarakat di sejumlah Desa di Kecamatan Bulu. Sebab terdengar suara gemuruh yang keras dan ledakan yang sangat dasyat.
Fenomena alam yang langka ini kemudian menarik perhatian sejumlah ilmuan untuk menelitinya. Antara lain sejumlah dosen di Sekolah tinggi Sains dan Teknologi AKPRIND Yogyakarta. Mereka melakukan penelitian, kemudian membangun monumen tepat di lokasi jatuhnya meteor. Bahkan pecahan meteor ikut diabadikan dalam monument itu.
Keberadaan Monumen Meteorit tersebut semakin melengkapi genre wisata di kaki Gunung Sumbing, di samping panorama alam yang indah, udara pegunungan yang sejuk dan menyegarkan, serta potensi agrowisata buah dan sayuran yang amat menawan.
Kini Monumen Meteorit menjadi salah satu objek wisata di Temanggung yang menarik dikunjungi, apalagi didukung oleh kesejukan udara dan keindahan panorama alam dengan latar belakang Gunung sumbing yang kokoh.

PROSPEK PENGEMBANGAN
Meski merupakan monumen langka di jawa tengah, monumen Meteorit di desa Wonotirto, Kecamatan Bulu, itu sebenarnya belum terlalu banyak memberikan wahana pendidikan kepada para pengunjung, yang selama ini didominasi oleh wisatawan lokal.
Kesan yang sering kali muncul adalah pengunjung umumnya datang karena didorong oleh rasa penasaran, belum sampai pada kesadaran untuk melihat fenomena alam bernama meteor. Tidak heran apabila begitu melihat dari dekat, terutama pecahan meteor yang tertanam pada bagian atas monumen, pengunjung biasanya langsung pulang.
Kalau pun masih bertahan di Wonotirto, pada umumnya mereka ingin menikmati kesegaran udara di kaki gunung sumbing tersebut, sembari melihat panorama alam yang indah. Dilain hari, ketika mereka datang lagi kemonumen, nyaris tidak ada sesuatu hal baru yang membuat mereka penasaran.

Oleh karena itu, sangat penting bagi Pemerintah Kabupaten Temanggung untuk menambah wahana pendidikan disekitar monumen meteorit. Misalnya membangun perpustakaan ataun museum mengenai meteor dan fenomena alam diruang angkasa. Materinya bisa berupa replika, buku-buku, ensiklopedi, bahkan pecahan meteor yang jatuh di tempat lain.
Penambahan ruang publik, seperti gazebo dan taman bermain anak-anak, juga dapat menjadi salah satu siasat jitu untuk mengundang kembali para wisatawan lama, sekaligus dapat menarik minat calon wisatawan baru. Melalui berbagai upaya tersebut, monumen meteorit diharapkan bisa lebih dikenal masyarakat bukan hanya dari kabupaten temanggung saja, melainkan juga dari berbagai daerah lain di jawa tengah.

Pengembangan monumen meteorit sebenarnya cukup prospektif, karena didukung oleh dua objek wisata lainnya. Yaitu keberadaan goa wonotirto yang berada didesa yang sama, serta objek wisata alam pegunungan dengan latar belakang gunung sumbing.

>> MONUMEN BAMBANG SUGENG <<

Disebelah timur Terminal Bus Kota Temanggung terdapat sebuah bukit kecil. Disitulah berdiri tegak monument Bambang Sugeng, yang selama bertahun-tahun menjadi objek wisata bernuansa sejarah perjuangan bangsa Indonesia dimasa perang kemerdekaan.
Lokasi monument ini tidak jauh dari taman makam pahlawan, tepatnya disisi timur jembatan Kranggan. Tetapi siapakah Bambang Sugeng? Beliau adalah prajurit TNI, yang dengan pangkat terakhir mayor jendral, yang pernah ditugaskan diTemanggung.

Bambang Sugeng pernah memimpin pasukannya saat Agresi Militer I (1947)dan Agresi Militer II (1948). Ada sebait puisi yang ditulis Bambang Sugeng, dan hingga sekarang masih dapat disaksikan para pengunjung Di Monumen tersebut:” Aku rela, aku tak kecewa, gugur demi nusa bangsa”.
Ya, pasukan Bambang Sugeng memang bertempur dengan gagah- berani, meskipun harus kehilangan sekitar 3.500 prajuritnya, dalam pertempuran melawan Belanda di alur Kali Progo. Sebelum Berperang melawan Belanda, Bambang Sugeng juga memimpin perlawanan menghadapi balatentara Jepang.
Banyak tentara Jepang yang ditawan, namun semuanya mengaku di perlakuan dengan sangat baik oleh Bambang Sugeng. Bahkan di monument ini pun terdapat batu prasasti yang ditulis tentara Jepang yang di tawakan pasukan Bambang Sugeng. Tulisan dengan huruf kanji itu berbunyi “Wampo Daiwa Daigetzu”, yang berarti “ seluruh dunia sekeluarga”.
Para tawanan yang diperlakukan dengan sangat baik itu merasa berhutang budi kepada Bmbang Sugeng. Untuk membalasnya, sampai kini banyak warga Jepang, terutama anggota keluarga eks tawanan, melakukan kunjungan rutin ke Monumen Bambang Sugeng.


PROSPEK PENGEMBANGAN

SELAMA kesadaran masyarakat Indonesia terhadap sejarah dan perjuangan para pendahulu dalam membela bangsa-negara masih kurang, maka objek wisata seperti museum monument perjuangan tetap saja kurang mendapat perhatian yang layak.
Masyarakat masih menganggap berwisata ke kawasan pegunungan dan pantai lebih menyenangkan. Tradisi berwisata masyarakat seperti ini perlu dibenahi secara bertahap, setidaknya ditemanggung. Instisusi pendidikan formal, terutama pada jenjang pendidikan dasar dan menengah, perlu diminta berpartisipasi dengan cara menjadwal kunjungan mereka ke monument Bambang Sugeng.

Tentu sulit “melibatkan” peranserta masyarakat, khususnya dari kalangan pendidikan, apabila tidak ada penambahan daya tarik dikawasan wisat itu sendiri.
Dengan pertimbangan itulah, maka objek wisata bernuansa sejarah perjuangan bangsa seperti monument bambang sugeng ini perlu dilengkapi dengan museum khusus yang menceritakan keprajuritan diwilayah eks parisidenan kedu, atau setidaknya di kabupaten temanggung. Apalagi selama ini cukup banyak kunjungan warga jepang ke monument tersebut.

Dalam jangka menengah, objek wisata ini juga bisa dilengkapi dengan wahana permainan “ perang-perangan” yang sekarang menjadi tren wisata petualangan bagi kawula muda diperkotaan. Apabila pengunjung makin meningkatkan, boleh juga ditambahkan sarana dan prasarana lainnya seperti kios cenderamata, taman bermain anak, dan lain sebagainya.

>> CURUG LAWE <<

Sebagaimana Curug Trocoh, Curug Lawe juga terletak di kawasan utara Kabupaten Temanggung. Tepatnya di Desa Muncar, Kecamatan Gemawang. Kecamatan ini berbatasan dengan Kabupaten Kendal.
Panorama alam di curug ini tidak kalah dengan memikat dari Curug Trocoh. Perjalanan menuju lokasi juga cukup lancer, dengan jarak tempuh sekitar 26 km dari kota Temanggung kea rah utara.

Lawe, Disebut Curug karena air yang jatuh dari tebing curam itu terlihat bagai benang-benang putih, yang dalam bahasa jawa disebut lawe. Disekitar objek wisata terdapat buah khas gemawang, yaitu cendul (buah kepel), yang jarang dijumpai di daerah lain. Jika sedang musimnya, wisatawan bisa memetik buah kepel dari pohonya secara gratis. Buah ini sangat menyegarkan, sehingga bisa menghapus dahaga para pengunjung.

Pengunjung yang membawa kendaraan pribadi (mobil/sepeda motor) bisa menitipkan kendaraanya di rumah-rumah penduduk terdekat, kemudian berjalan kaki menyusuri jalan setapak menuju lokasi. Objek wisata ini sangat cocok untuk pengunjung yang menguasai wisata petualangan.
Tidak jauh dari Curug Lawe terdapat mata air panas yang bisa dimanfaatkan untuk mengobati beberapa penyakit kulit dan tulang, karena airnya mengandung belerang.
Dikawasan ini, pengunjung juga dapat menikmati wisata belanja sayuran dan buah-buahan, terutama pisang dengan harga sangat murah, karena langsung dibeli dari petani di Pasar Muncar.

PELUANG INVESTASI

ADA beberapa peluang investasi yang bisa digarap pemerintah daerah maupun kalangan swasta dikawasan Curug Lawe, antara lain :
- Pembangunan kolam pemandian air panas, baik terbuka (pancuran umum) maupun tertutup (kamar pemandian). Proyek ini cukup prospektif, apalagi lokasinya dekat dengan Semarang, Ungaran dan Kendal.
- Pembangunan objek wisata air terpadu (kolam renang, kolam arus, kolam pesta air, papan/menara luncur, dan dilengkapi berbagai permainan air lainnya).
- Perbaikan jalan setapak serta areal parkir.
- Pengembangan wisata olah raga alternative, mulai dari outband, adventurezone, woodball, hingga arena motorcros dan jalur off-road.
- Pembangunan fasilitas pendukung wisata lainnya, seperti gazebo, hotel, wisma, vila, homestay, vila, restoran-restoran unik dengan menu temanggung, hingga kios buah, sayuran, dan cenderamata.
- Pengembangan kawasan agrowisata di sekitar Curug Lawe, dengan komoditas buah, sayuran, dan tanaman hias.

>> CURUG TROCOH <<

SEJARAH
Curug Trocoh dikenal pula dengan nama Curug Surodipo, untuk menghormati perjuangan Surodipo, pengikut setia Pangeran Diponegoro. Ia pernah dipercaya sebagai panglima perang saat melawan tentara belanda (1825-1830).
Di Desa Tawangsari, Kecamatan Wonoboyo, inilah Surodipo membangun benteng pertahanannya. Di tempat ini pula, Pangeran Diponegoro mengumpulkan para panglima perang dan pengikutnya, untuk menyusun siasat perang gerilya yang sangat melegenda itu.
Seperti dataran tinggi lainnya, Kabupaten Temanggung juga memiliki
Beberapa obyek wisata air terjun (Curug). Yang cukup terkenal antara lain Curug Trocoh (Curug Surodipo) dan Curug Lawe.
Curug Trocoh terletak di Desa Tawangsari, Kecamatan Wonoboyo, sekitar 28 km dari arah barat laut Kota Temanggung. Istilah Trocoh, dalam bahasa jawa, berarti selalu mengeluarkan air. Air di Curug ini memang tak pernah surut, termasuk saat kemarau panjang. Tetapi ketika terjadi penjarahan hutan besar-besaran di awal reformasi, ekosistem di kawasan ini sdikit terganggu. Meski tak Objek wisata ini disebut juga sebagai Curug Surodipo. Nama ini memang terkait dengan seorang tokoh pejuang bernama Surodipo, yang merupakan pengikut setia Pangeran Diponegoro. Surodipo mengungsi ke Tawangsari, sekaligus untuk menyusun strategi perang melawan tentara Belanda.
Curug Trocoh memiliki keunggulan yang jarang dimiliki objek wisata air terjun lainnya, yaitu mempunyai lima terjunan bertingkat. Ketinggian curug, dari puncak ke dasar sekitar 120 meter. Jarak antara terjunan satu dan terjunan berikutnya rata-rata 20 meter. Selain itu, airnya bersih dan segar.
Di sekitar curug terdapat bebatuan alam yang digunakan untuk duduk bersantai sambil menikmati keindahan air terjun dengan ketinggian yang terjal tersebut.
Apalagi panorama alamnya sangat indah, khas pedesaan, serta berhawa sejuk. Dengan berbagai kelebihan ini, Curug Trocoh layak “dijual” sebagai objek wisata alam dan sejarah.
Tak sedikit pengunjung yang sengaja datang untuk melakukan meditasi, guna meningkatkan kemampuan supranaturalnya. Tempat yang sering digunakan untuk meditasi adalah goa-goa disekitar Watu Godheg. Tak jauh dari air terjun.
Untuk memopulerkan objek wisata ini, Pemerintah Kabupaten Temanggung pernah mengadakan acara jelajah wisata curug Surodipo. Rutenya dimulai dari depan Kecamatan Wonoboyo menuju lapangan Desa Tawangsari yang berjarak sekitar 7 km.
Perjalanan bisa dilakukan dengan mobil atau motor. Dari lapangan, penjelajahan dilanjutkan dengan naik bukit menuju Curug Trocoh yang berjarak 3 km. Kegiatan ini perlu diteruskan dan dikemas lebih baik lagi dimasa datang, sebagai siasat menjaring minat calon wisatawan. Infestor pun sangat berpeluang menanamkan kapitalnya dengan membangun sarana-prasarana wisata di sekitar curug Trocoh.

PELUANG INVENTASI
Sesuai dengan karateristiknya, Curug Trocoh bisa dikembangkan menjadi kawasan wisata modern, tanpa meninggalkan sifat-sifat alaminya. Dalam hal ini, ada beberapa peluang usaha yang bisa ditawarkan kepada calon investor, yaitu:
Pertama, pembangunan objek wisata air terpadu, yang sumber airnya diambilkan dari mata air di Curug Surodipo. Beberapa fasilitas yang bisa dibangun antara lain:
a. Kolam renang standar internasional, sehingga bisa digunakan pula untuk menggelar perlombaan renang baik berskala lokal, nasional, maupun internasional.
b. Kolam arus, di mana para wisatawan bisa menyusurinya dengan perahu kayak dan pelampung.
c. Papan/menara luncur, dengan track Khusus anak-anak.
d. Water boom yang sekarang menjadi tren terbaru dalam wisata air.
e. Pancuran terbuka, yang bisa digunakan untuk membilas tubuh setelah berenang atau sekedar menghilangkan pegal-pegal.
f. Kolam Pesta air yang di kota-kota besar menjadi tempat faforit anak-anak, dengan aneka permainan anak (misalnya see-saw, banana boat, sepeda air , bantal air, perahu kayak, dan lain-lain).
Kedua, pembangunan beberapa fasilitas olah raga alternative, misalnya sirkuit gokart, jalur off-road, arena motocross, lapangan woddball, dan lain-lain.
Ketiga , pembangunan fasilitas pendukung wisata lainnya seperti taman bermain anak-anak, panggung kesenian (musik, melukis, dll), kios cinderamata, wisma/hotel, restoran, dan lain sebagainya.

Untuk meningkatkan daya tarik wisatawan, investor dapat membangun arena bermain anak-anak di kawasan Curug Trocoh, seperti pembuatan jembatan gantung, flying fox, dan material outbond lainnya yang sadigemari anak-anak dan kawula muda di perkotaan. Banyak wahana permainan air yang dapat dikembangkan di Curug Trocoh. Misal banana boat, see-saw, bantal air dan lain-lain. Sumber air yang tak pernah kering, termasuk pada saat kemarau pada saat kemarau panjang, menjadi daya dukung tersendiri.

>> POTENSI AGROWISATA <<

Istilah agrowisata, atau sering pula disebut wisata agro, makin populer sejak awal dekade 2000-an. Agrowisata adalah kegiatan wisata yang berlokasi/berada di kawasan pertanian, terutama tanaman perkebunan (kopi, teh, cokelat, dll) dan tanaman buah-buahan.

Salah satu daya tarik agrowisata ialah adanya kesempatan bagi pengunjung untuk memetik (memanen) buah dan hasil perkebunan lainnya. Selanjutnya hasil panen ditimbang dan dihargai pengunjung sesuai dengan harga yang ditetapkan pengelola.
Dengan cara tersebut, pengunjung memperoleh kepuasan dan pengalaman yang tak terlupakan. Di Indonesia, konsep agrowisata pertama kali diperkenalkan di sentra perkebunan apel dikawasan Batu, Kabupaten Malang (sekarang termasuki wilayah Kabupaten Batu).
Kini, beberapa kawasan agrowisata juga bisa dijumpai di Jawa Tengah. Beberapa perusahaan perkebunan pun mulai mengembangkan sayap usahanya dengan mendesain sebagian areal kebunnya sebagai kawasan agrowisata. Misalnya kebun Teh Kaligua (Brebes), Kebun teh pagilaran (Batang), kebun teh tambi (Wonosobo), kebun kopi Banaran (Kabupaten Semarang), dan lain sebagainya.
Agrowisata tak sebatas perkebunan. Subsektor peternakan dan perikanan (darat) pun bisa dikembangkan, misalnya sentra kambing Peranakan Ettawa (PE) di Kecamatan Kali Gesing (Purworejo), sentra peternakan sapi perah dicepogo (Boyolali), sentra ikan darat di Ngrajek (Kabupaten Magelang), an lain-lain.

Kabupaten Temanggung juga memiliki potensi besar di bidang agrowisata, terutama agrowisata kebun kopi. Setidaknya ada tiga lokasi yang ideal untuk dikembangkan sebagai kawasan agrowisata perkebunan kopi di Kabupaten ini, yaitu perkebunan Gesing, perkebunan Rowo seneng, dan perkebunan Bojongrejo.

PEKEBUNAN GESING
Desa Gesing hanya berjarak sekitar 12 km dari arah utara kota Temanggung. Sejak dulu, desa ini dikenal sebagai salah satu sentra penghasil kopi robusta terbesar di Temanggung.
Pengelolaan budidaya kopi dikelola oleh kelompok tani ngudirejeki, yang menghimpun 112, 09 ha kebun kopi rakyat disebelah utara permukiman penduduk. Bau harum khas bunga kopi begitu terasa ketika kita memasuki dan menapaki perkebunan kopi.
Wisatawan bisa melihat proses pengolahan kopi yang dikelola kelompok tani, mulai dari pemilihan biji yang dipanen, sortasi buah basah, pengupasan kulit biji, pencucian biji yang masih diselimuti lendir, pengeringan biji kopi, baik secara traisional (di jemur) maupun menggunakan mesin pengering kopi (Oven system).
Sambil mengamati proses tersebut, wisatawan bisa menikmati secangkir kopi hangat yang diperoleh dari seduhan bubuk kopi yang dibuat ibu-ibu petani sebagai hasil produk industri rumah tangga.

PERKEBUNAN BOJONGREJO
Perkebunan Bojongrejo merupakan salah satu perkebunan besar Negara (PBN) yang dikelola PTP Nusantara IX. Lokasinya berada dib Desa Selosabrang, Kecamatan Bejen, sektar 45 km dari arh utara Kota Temanggung.
Areal kebun kopi robusta yang dikelola seluas 642,32 ha, dilengkapi dengan fasilitas pengolahan kopi cara basah yang modern, dengan kapasitas mesin lebih besar dari pada Rowoseneng.

PERKEBUNAN ROWOSENENG

Perkebunan rowoseneng yang terletak di Desa Ngemplak, Kecamatan Kandangan, merupakan salah satu perkebunan besar swasta (PBS) di Kabupaten Temanggung. Di tempat ini terdapat areal perkebunan kopi rebusta seluas 136,70 ha, yang dikelola oleh PT Naksatra Kejora.
Lokasi yang dilengkapi dengan bumi perkemahan (camping ground) itu dikelilingi pepohonan pinus, sehingga suasananya betul-betul alami dan jauh dari polusi.
Tempat ini dikenal pula sebagai ”kawah candradimuka” bagi para biarawan, room, dan frater. Setiap akhir pekan, Rowoseneng ramai dikunjungi orang, antara lain dari yogyakarta, Bandung, Surabaya, Semarang, dan kota-kota lainnya.
Kawasan agro wisata Rowoseneng memang menawarkan nilai plus bagi pengunjung. Sebab kawasan in bukan hanya menyajikan hamparan kebun kopi saja, tetapi juga peternakan sapi perah hingga usaha kecil pembuatan aneka roti. Pengunjung juga bisa melihat proses pembuatan keju dan yoghurt untuk menyelamatkan susu ketika tak laku di pasaran.
Tatkala harga kopi anjlok, petani mengolah sendiri biji-biji kopi menjadi kopi bubuk. “Kopi lantas dijual dalam berbagai kemasan. Bahkan diberi aroma rasa yang berbeda, seperti moka, stoberi, dan coklat. Jadi produk kami mampu bersaing dengan produk lain di pasaran bebas, “kata Romo Beda, manajer pemasaran Agro Wisata Rowoseneng.
Produk roti yang dominan adalah kastangel yang juga menggunakan komponen keju. Kastangel asal Rowoseneng sangat terkenal di Jawa Tengah. Usaha pembuatan roti ini juga didukung alat-alat yang lumayan canggih.

PROSPEK PENGEMBANGAN

Pengembangan kawasan agrowisata tidak cukup dilakukan hanya dengan membenahi kawasan perkebunan itu sendiri. Sarana dan prasarana pendukung pun perlu dibenahi, misalnya memperbaiki jalan menuju kebun, tempat istirahat (gazebo) di kebun, wisma/tempat penginapan, hingga peralatan komunikasi, sarana-prasarana standar lainnya.
Kegiatan jugabharus mampu memberi hiburan dan pengetahuan kepada pengunjung. Misalnya dengan meluncurkan paket coffe walk.
Coffe walk atau kegiatan wisata jalan-jalan di kebun kopi. Di tempay ini, wisatawan bisa mengenal lebih dekat lingkungan alam, antara lain beragam variesta kopi robusta, mengenal teknik budidaya, proses pembuatan bubuk kopi, serta diakhiri dengan duduk santai sambil mencicipi rasa dan aroma khas kopi yang disedu air panas.

PASAR AGROWISATA SOROPADAN
Kabupaten Temanggung termasuk beruntung, sebab Pemerintah Provinsi Jawa Tengah membangun Pasar Agrowisata Soropadandi Desa Soropadan, Kecamatan Pringsurat. Di tempat ini rutin digelar Soropadan Agro Expo yang diikuti hampir semua daerah di Indonesia.
Pasar ini menempati areal cukup luas, sekitar 6,5 ha, tepat di jalan raya Pringsurat-secang. Pemerintah Provinsi tidak hanya meningkatkan nilai jual produk pertanian melalui Pasar Agrowisata, tetapi juga menjadikan tempat ini sebagai kawasan wisata agro.
Di sini terdapat green house anggrek, sekaligus berkonsultasi mengenai seluk-beluk tanaman anggrek. Ada juga bursa aneka tanaman hias lainnya, yang sekarang sedang digandrungi orang-orang kota.
Pasar Agrowisata Soropadan juga akan dijadikan kebun petik buah. Luas areal untuk tanaman buah sekitar 3,5 ha, antara lain meliputi tanaman durian, rambutan, kelengkeng, salak, melon, semangka, dan tomat. Pengunjung bisa memetik langsung buah langsung dari kebun.

PELUANG INVESTASI
Rencana investasi (baru) di Pasar Agrowisata Soropadan perlu dibicarakan langsung dengan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, selaku pemilik dan pengelola.
Namun bukan berarti Pemerintah Kabupaten Temanggung tidak bisa memanfaatkan kawasan sekitar, untuk pengembangan wisata baru yang bisa mendukung Pasar Agrowisata.
Sesuai dengan karateristik daerah dan kondisi sosial-budaya masyarakat setempat, ada beberapa peluang inventasi yang bisa dikembangkan di Desa Soropadan, antara lain:
a. Pembangunan kios-kios buah disepanjang jalan raya Pringsurat Secang, tidak jauh dari lokasi Pasar Agrowisata Soropadan.
b. Pembangunan outlet minuman dingin, yang berbahan baku dari tanaman buah setempat. Misalnya jus dan sirupkelengkeng, tomat, durian, rambutan, salak nglumut, dan lain sebagainya. Outlet raya dekat Pasar Agrowisata.
c. Pembangunan outlet minuman hangat , yang berbahan baku dari tanaman local. Misalnya kopi, the, cokelat, dan jahe. Lokasinya bisa disatukan dengan outlet minuman dingin.
d. Pembangunan resto pemancingan di tepi jalan raya Pringsurat-Secang.
e. Pembangunan kolam budi daya ikan hias (koi, arwana, maskoki, dll).
f. Pembangunan kolam renang air hangat.
g. Taman bermain bagi ank-anak, sehingga bisa menambah minat wisatawan yang datang bersama anggota keluarga.
Diyakini beberapa peluang usaha ini memiliki prospek cerah, karena letaknya yang sangat strategis dan berada di jalur utama lalu lintas Semarang-Yogyakarta dan Semarang-Purwokerto.Selain memunculkan simpul-simpul ekonomi baru, juga bisa lebih menghidupkan kawasan di sekitar Pasar Agrowisata Soropadan.

>> GOA WONOTIRTO <<

Kabupaten Temanggung juga memiliki beberapa objek wisata goa. Setidaknya ada dua goa yang potensial untuk dikembangkan, yaitu Goa Wonotirto dan Goa Lawa. Sesuai dengan namanya, Goa Wonotirto terletak di Desa Wonotirto, Kecamatan Bulu.

Goa ini ditemukan masyarakat desa setempat pada tahun 2002. Lokasinya berada di kaki Bukit Juranggrawah, sekitar 1 km dari pusat desa. Sebagaimana kawasan di lereng gunung lainnya, desa Wonotirto memiliki panorama alam pegunungan yang indah, karena terletak dalam rangkaian kawasan wisata Gunung Sumbing.
Sayangnya, hingga kini jalan menuju Goa Wonotirto belum beraspal. Bahkan harus naik- turun bukit hampir 1 km dari jalan desa. Beberapa speleolog (ahli dalam bidang kegoaan) dari berbagai daerah pernah datang meneliti Goa Wonotirto. Kesimpulan mereka, goa tersebut layak dikembangkan sebagai kawasan wisata.

Saat ini mulai dibenahi, terutama untuk mendukung pengembangan wisata alam Gunung Sumbing. Pembenahan yang sudah dilakukan antara lain melebarkan ruang Goa yang selama ratusan tahun tertutup longsoran tanah. Kini ruang yang sudah terbuka sepanjang 20 meter, dengan lebar 2 meter dan tinggi juga 2 meter.
Antusias warga untuk mengembangkan goa ini cukup tinggi. Apalagi letaknya dekat Monumen Meteorit yang diresmikan tahun 2002.

POTENSI PENGEMBANGAN


OBJEK wisata goa seringkali dianggap sebagai salah satu genre pariwisata yang relatif statis. Alasannya, tidaklah mungkin untuk mengubah kondisi didalam goa apalagi mengubah struktur stalagtit dan stalagmitnya.
Tetapi bukan berarti objek wisata goa tidak bisa dikembangkan dan tak mampu mendatangkan wisatawan.Goa Wonotirto, misalnya, sangat memungkinkan untuk dikembangkan sebagai objek wisata andalan.
Beberapa upaya yang bisa dilakukan antara lain membenahi kawasan internal (untuk mencapai syarat minimal kelengkapan sebuah goa) dan syarat eksternal (meningkatkan keramaian di sekitar goa).

Pengembangan Kawasan Internal :
a. Melanjutkan pembukaan ruang didalam goa, hingga mencapai batas maksimal. Biasanya ujung dari rongga di dalam goa berakhir pada sebuah terowongan air.
b. Memberi beberapa penerangan di dalam goa, sehingga terlihat lebih indah. Hal inilah yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Kebumen terhadap goa Jatijajar yang mampu menyedot banyak wisatawan dari luar daerah.

Pengembangan Kawasan Eksternal
a. Membangun bumi perkemahan dan camping ground.
b. Menyelenggarakan aneka kegiatan yang terkait dengan berbagai kegiatan wisata petualangan, seperti outband, adventure zone, dan arena cross country.
c. Membangun prasarana olah raga alternative seperti motorcross, off-road, dan lain-lain.
d. Mendirikan homestay, wisma, atau penginapan khas pedesaan.
e. Membangun agrowisata perkebunan disekitar Goa Wonotirto.
f. Membuat jejaring wisata dengan objek wisata terdekat, terutama dengan Monumen Meteorit dan Prasasti Gondosuli (keduanya juga berada di Kecamatan Bulu), Candi Pringapus dan Umbul Jumprit (Kecamatan Ngadirejo), serta taman rekreasi Pikatan Indah (Pikatan Water Park) dan Taman Rekreasi Kartini di Kota Temanggung.

Dua kegiatan pengembangan ini, baik internal maupun eksternal, bisa ditangani langsung oleh Pemerintah Kabupaten Temanggung, didelegasi kepada Pemerintah desa dan kecamatan, pihak ketiga (investor), atau kerja sama antara pemerintah daerah dan pihak ketiga.

>> GOA LAWA <<

Goa Lawa merupakan objek wisata yang sangat tepat bagi kawula muda, atau siapapun yang berjiwa muda, untuk melakukan wisata petualang menantang alam, misalnya menjelajah semak-semak dan lembah didalam gua.
Goa ini terletak dilembah sungai bodri, tepatnya di Desa Ngalian, Kecamatan Bejen. Desa ini berada di tapal batas kabupaten Temanggung dan Kabupaten Kendal. Dilembah ini terdapat sebuah bukit terjal, dan pada kaki bukit itulah terdapat goa lawa yang indah, terbuat dari bebatuan kapur dengan stalagtit dan stalagmite yang memikat.

Disebut goa lawa, karena didalamnya banyak dijumpai kelelawar, yang dalam bahasa jawa disebut lawa. Dulu, goa ini jarang dikunjungi orang, kecuali bagi mereka yang ingin bertapa.
Lokasinya mudah dijangkau, karena jaraknya hanya sekitar 300 meter dari jalan raya Temanggung-Kendal. Beberapa waktu lalu, Mahasiswa dari akademi Pariwisata Semarang mengadakan kuliah kerja nyata di Kecamatan Bejen dan melihat betapa besar potensi wisata di sekitar goa tersebut.

Masyarakat Desa Ngalian memiliki tradisi yang bisa dijadikan pendukung wisata, yaitu ritual yang disebut Lampet Dhawuhan.
Dalam ritual ini, siapapun yang menjabat kepala desa harus berkumur air di kali Bodri, kemudian berjalan di pematang sawah, sambil menyemburkan air bekas kumuran ke sawah tempat bertanam padi.

PROSPEK PENGEMBANGAN
DALAM pengembangan objek wisata Goa Lawa, ada beberapa tindakan yang bisa dilakukan untuk menarik minat kunjungan wisatawan, terutama dari luar Kabupaten, antara lain:
a. Membangun bumi perkemahan dan camping ground.
b. Menyelenggarakan kegiatan-kegiatan yang terkait denga kegiatan wista petualangan, misalnya outbond dan adventure zone yang menjadi tren orang-orang di perkotaan, hingga arena cross country.
c. Membangun sarana dan prasarana olah raga alternatif, seperti motocross, off-road dan sebagainya.
d. Mendirikan homestay, wisma, vila, maupun bentuk penginapan lainnya yang bernuansa pedesaan.
e. Membangun agrowisata perkebunan di sekitar Goa Lawa.
f. Membangun kios-kios cenderamata, serta toko perlengkahan kemah.
Pembangunan berbagai sarana dan prasarana pendukung wisataitu dilakukan untuk meningkatkan keramaian di sekitar objek wisata inti.
Beberapa kegiatan ini bisa ditangani langsung oleh Pemerintah Kabupaten Temanggung, tetapi bisa juga didelegasikan kepada pemerintah desa/kecamatan, pihak ketiga (investor lokal/nasional), atau kerja sama antara Pemerintah Kabupaten Temanggung dan Kabupaten Kendal.

>> ELEMEN PENDUKUNG WISATA <<

Keberadaan objek wisata tidak bisa dipisahkan dari sarana dan prasarana pendukung disekitar pariwisata itu sendiri. Ketersediaan agenda wisata yang bersifat tahunan, apalagi sudah menjadi tradisi, setidaknya bisa mendongkrak kunjungan wisatawan. Kabupaten Temanggung memiliki beberapa upacara tradisi yang sering dikaitkan dengan keberadaan objek wisata tertentu. Melalui penyelenggaraan beberapa upacara tradisi ini, pemerintah daerah dan masyarakat bukan hanya terlibat langsung dalam pelestarian budaya local, tetapi juga berperan dalam menarik kunjungan wisatawan ke objek wisata tersebut. Bab ini akan menjelaskan secara ringkas beberapa agenda wisata yang cukup besar di Temanggung.

Tradisi Yang Lestari
Ini merupakan tradisi masyarakat Desa Traji, kecamatan Ngadirewjo, yang dilaksanakan setiap malam 1 Sura (1 Muharam). Dalam upacara ini, Kepala Desa (Lurah) Traji yang berpakaian pengantin dikirab dari rumahnya menuju Sendang sidukun yang berjarak sekitar 600 meter.
Sesampai di Sendang tersebut diadakan acara kacar-kucur dan upacara sesaji. Acarakacar-kucur menyerupai prosesi pemandian calon pengantin menjelang perkawinan.
Sedangkan sesaji berupa kupat sumpil (ketupat kecil) akan diperebutkan pengunjung, karena diyakini dapat dijadikan benda bertuah atau jimat.
Selanjutnya Lurah dikirab lagi dari Sendang Sidukun menuju Balai Desa Traji. Ditempat inilah digelar pertunjukan wayang kulit semalam suntuk.

Pengambilan Air Suci Waisak
Salah satu kegiatan memperingati Trisuci Waisak adalah prosesi pengambilan air suci di umbul Jumprit. Prosesi dimulai tiga hari sebelum Waisak. Ditempat ini juga terdapat tradisi kungkum, selepas pukul 24.00 tiap malam Selasa Kliwon dan Jumat Kliwon. Mereka yang kungkum akan membuang pakaian dalam sebagai symbol membuang sial agar nasibnya menjadi baik.

Gebyar Pekan Syawalan
Pada musim lebaran digelar Gebyar Pekan Syawalan di Taman rekreasi Kartini Kowangan, Temanggung. Acara dimulai sejal tanggal 2 syawal, dan berlangsung selama seminggu.
Atraksi yang ditawarkan sangat bervariasi, mulai dari berbagai arena permainan anak, pentas musik dangdut, hingga warung-warung souvenir dan makanan tradisional.

Gebyar Padusan di Pikatan
Gebyar Padusan digelar rutin setiap menjelang bulan puasa di taman Rekreasi Pikatan Indah. Dalam kegiatan ini di tampilkan berbagai atraksi kesenian dengan menu berganti-ganti tiap tahun, misalnya pentas kesenian tradisional (kuda lumping, warokan, kuntulan, reog, campursari), solo organ, sulap dan lain-lain. Pengunjung bisa menikmati makanan khas seperti gula kacang, pecel mi, dan ikan bader goring.

Ritual Pendakian Sumbing
Tradisi pendakian Gunung Sumbing (3.371 m dpl) dilakukan pada malam selikuran di bulan suci Ramadhan. Pendakian dimulai dari Desa Pagergunung, Kecamatan Bulu. Ribuan pendaki akan dipandu para pecinta alam yang berpengalaman seperti Sumbing Hiking Club (SHC) Temanggung, dan dipantau petugas terpadu di posko-posko yang ada.

Ritual Pendakian Sindoro
Selain Pendakian biasa, ada ritual pendakian gunung sindoro yang berlangsung tiap malam 1 suro. Ini merupakan kegiatan yang menarik minat para pecinta alam untuk berpetualang mendaki gunung sindoro, serta melihat keindahan Telaga ajaib dan Bunga abadi edelweis di puncak gunung.
Pendaki juga bisa melihat terbit dan tenggelamnya matahari di pergantian tahun islam itu. Ritual pendakian dilakukan melalui Desa Katekan, Kecamatan Ngadirejo.

Tradisi Jum’at Pahingan
Acara ini diselenggarakan setiap malam jum’at pahing dan selalu ramai. Bukan hanya karena kehadiran pengunjung, tetapi juga puluhan pedagang. Mulai dari penjaja makanan khas seperti brongkos kikil hingga mainan anak-anak.
Ritual dimulai dari masjid Jami di Desa Menggoro, Kecamatan Tembarak. Mujahadah, baik secara perorangan maupun kelompok, dilakukan oleh wisatawan dengan minat khusus ini. Banyak pengunjung yang datang dari Wonosobo, Kendal, Magelang, Semarang, Surakarta, bahkan dari Jakarta dan beberapa kota di jawa Barat dan Jawa Timur.
Masjid Menggoro sudah ada sejak masa pertumbuhan Islam Di Jawa, sehingga dapat dikatakan sebagai salah satu dari sembilan masjid tertua di Tanah Jawa.
Melihat candrasengkala di gapura masuk halaman masjid yang berbunyi Rasa Brahmana Resi Bumi, bisa diartikan bahwa masjid ini selesai dibangun pada tahun Saka 1786, atau sekitar 1722 Masehi. Hal ini berarti pada masa penjajahan Belanda.
Bentuk gapuranya yang berornamen garis gaya bangunan Belanda semakin membuktikan bahwa pembangunan gapura masjid ini terjadi pada masa penjajahan Belanda. Bentuk dan struktur bangunannya juga mengindikasikan pola arsitektur pada masa pertumbuhan Islam di Jawa.
Keberadaan dua buah nandini (patung sapi betina) yang sudah terpotong bagian kepalanya di Hal masjid itu juga menunjukkan bahwa kawasan ini dulu mempunyai keterkaitan dengan kultur agama sebelum Islam, yakni Hindu.
Masjid Menggoro itu sampai kini masih berdiri kokoh dan menjadi pusat kegiatan tradisi Jum’at Pahingan. Ribuan Pengunjung dipastikan hadir untuk ngalab berkah di masjid, lalu mengucapkan nazar dan akan kembali tiap malam jum’at Pahing sampai cita-citanya terkabul.
Diluar masjid ada arena yang luas tempat berdirinya warung-warung tiban yaitu berupa warung makanan khas Menggoro. Ada brongkos kikil, ketupat goro, cucur, pecel lele, gula kacang dan sebagainya.
Pengunjung yang memiliki tujuan dan cita-cita tertentu terlebih dulu membeli sebungkus kembang setanam, kemudian dimintakan juru kunci untuk diberkahi. Selanjutnya, bunga ditebar di perempatan masjid dan diberi uang recehan.
Spontan, anak- anak desa yang sudah lama menunggu akan berebut uang recehan tersebut. Ada juga kepercayaan bahwa siapapun yang berhasil memeluk saka (tiang) Masjid Menggoro sampai menyentuh pundaknya, maka atas izin Allah semua keinginannya bakal terkabul.

0 komentar

Post a Comment

Silakan kirimkan komentar, kritik dan saran anda di bawah ini. Terima kasih...

Baca Juga Yang Ini :