Selamat Datang di Portal www.general-media.blogspot.com pada hari

Info Terkini

Bayi dengan Bibir Sumbing

Reporter : Lena Aristianti
Lucu dan menggemaskan. Itulah kesan yang pertama kali muncul, tatkala melihat wajah Sadiati. Sayang, wajah bocah perempuan berusia 8 bulan ini, harus tersiksa dengan kecacatan pada bibirnya. Sadiati terlahir dengan bibir sumbing. Ketidaksempurnaan yang dimiliki putri bungsu keluarga Wati sudah dirasakan, saat si jabang bayi masih didalam kandungan. Melihat kondisi sang anak, lahir dengan bibir sumbing, Wati hanya pasrah. Namuan sebagai seorang ibu, ia tetap akan memberikan yang terbaik untuk sang anak.

Tidak seperti ketiga kakak-kakaknya, yang mulai beranjak dewasa, Sadiati tidak mendapatkan air susu ibu. Idealnya, diusia seperti Sadiati kini, selain susu seharusnya sudah diberikan makanan. Namun karena kondisi mulut Sadiati yang tidak memiliki langit-langit, akan berbahaya apabila diberikan makanan. Walhasil Wati hanya memberinya susu buatan. Meski demikian, Sadiati tumbuh sehat dan cerdas.

Wati tetap tak mengerti, mengapa anak bungsunya ini, berbeda dengan kakak-kakaknya yang lain. Lahir dengan bibir sumbing. Iapun mencoba bertanya kepada dokter. Tapi jawabannyapun tidak memuaskan Wati. Oleh sebab itu, sang ibu kini hanya pasrah, dan mencari jalan bagaimana anaknya bisa hidup normal, seperti ketiga kakaknya.
Hidup dengan kondisi serba kekurangan, membuat Wati dan suaminya, Junaedi, tak dapat berbuat apa-apa demi kesembuhan putrinya. Junaedi sendiri hanya seorang pengamen, yang hanya bisa mengumpulkan uang perhariya 20 ribu rupiah. Sementara Wati, sebagai buruh cuci, dengan penghasilan 100 ribu sebulannya.

Tak heran apabila, Sadiati hingga kini belum juga diobati, kakak pertama Sadiati saja harus rela meninggalkan bangku sekolahnya, sejak dua tahun lalu, karena masalah biaya. Sementara kedua adiknya yang masih ditingkat sekolah dasar, masih bisa meneruskan pendidikannya.
Berbagai cara ditempuh Wati dan Junaedi, mulai dari mencari tambahan penghasilan, hingga meminjam uang dari sanak saudara. Namun belum juga membuahkan hasil. Tentu saja sungguh sulit untuk Wati dan Junaedi, dalam mengumpulkan uang sedikitnya 20 juta rupiah, untuk biaya operasi. Sementara menurut dokter, Sadiati harus menjalani 3 kali operasi, agar bisa normal.

Ditengah kegundahannya, Wati mencoba keberuntungannya, dengan mendaftarkan Sadiati sebagai pasien yang akan dibiayai dari Program Peduli Kasih, Indosiar. Dengan begitu ia berharap anaknya segera dapat dioperasi.
Di hari-hari penantiannya, Wati terus berdoa, semoga bantuan untuk putrinya, segera datang. Di rumah kontrakan mereka, di Kampung Gaga, Kelurahan Semanan, Kali Deres, Jakarta Barat, Wati, Junaedi, dan keempat anaknya, selalu berharap agar hidup mereka bisa berubah, dan anak-anak memiliki masa depan yang cerah, terlebih untuk Sadiati. (Djoko Sulistyono/Ijs)
reference : http://www.indosiar.com/v2/pksh/pk_read.htm?id=109



Siti Barokah Saada Menunggu Operasi

BAYI berusia tiga bulan itu tidur terlentang di atas kasur bersprei putih kamar I ruang rawat bedah saraf kelas III Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung. Bibir sumbing (labioschizis) yang dialaminya tidak menyurutkan ia untuk sesekali tersenyum.
SITI Barokah Saada (3 bulan) didampingi ibunya Dede Tina (21) tengah menjalani perawatan di ruang bedah syaraf Kelas III RSHS Bandung, Senin (13/3).* WILDA/"PR"
Kelopak matanya sedikit tertarik ke bagian dahi, seakan terbawa oleh beratnya benjolan yang membesar di bagian atas kepalanya.

Siti Barokah Saada, bayi mungil itu, diduga mengalami kebocoran cairan otak (meningoencephalocele). Tak hanya itu, jari-jari tangan serta kakinya pun melekat satu sama lain (syndactily). Beberapa jarinya bahkan tumbuh tak berkuku. Semua cacat itu dialami putri pertama Zaeni Abdul Rasid (26) dan Dede Tinah (21) sejak lahir pada 19 Desember 2005 dengan bantuan dukun beranak (paraji).

Benjolan yang tumbuh di bagian kepala warga Desa Jati Kec. Ciranjang Kab. Cianjur itu baru berbentuk bulat telur dan terus membesar. Saat hamil, Dede mengaku tak merasakan kelainan apa pun. Kehamilannya pun selalu ia periksakan kepada bidan desa setempat secara rutin. Proses kelahiran pun terbilang lancar tanpa hambatan. Saat itu, Siti lahir dengan berat 2,5 kg.

Tiga bulan berselang
Ketiadaan biaya menjadikan cacat bawaan yang dialami Siti baru diperiksakan ke RSUD Cianjur, tiga bulan kemudian. Satu hari dirawat, Siti langsung dirujuk ke bagian bedah saraf RSHS dan mulai dirawat sejak Sabtu (10/3). Saat ini Siti berada dalam perawatan dr. Mirna Sobana. Secara umum, kasus cacat bawaan seperti yang dialami Siti, disebabkan adanya faktor keturunan, infeksi pada masa kehamilan atau kekurangan gizi saat kehamilan.

”Kami masih melakukan penatalaksanaan sampai ada diagnosis secara keseluruhan. Biasanya cacat bawaan seperti ini sering disertai kelainan yang lain seperti jantung, sistem pencernaan atau sistem pernapasan,” ujarnya.
dr. Mirna memperkirakan, pada kasus ini tidak ada faktor keturunan maupun infeksi. ”Jadi, kemungkinan si ibu defisiensi asam folat pada awal masa kehamilan. Kekurangan asam folat bisa menyebabkan perkembangan selubung saraf tidak sempurna,” kata dr. Mima.

Operasi besar

Tanpa adanya kelainan bawaan pun, kata Mirna, proses operasi untuk kasus seperti itu tergolong besar dan tidak bisa dilakukan secara gegabah. Untuk itu, instalasi bedah syaraf pun telah melakukan konsul ke bagian bedah plastik dan bagian anak.
Hambatannya adalah CT scan yang dimiliki RSHS sejak Jumat (10/3) mengalami kerusakan. Padahal jika pasien harus diperiksa di luar rumah sakit, memerlukan biaya yang tidak sedikit dan berasal dari pasien sendiri.

Dede Tinah (21) mengaku khawatir jika operasi nanti membutuhkan biaya besar. Apalagi, kartu KS yang dimilikinya pun baru selesai diurus. ”Janten emutan. Upami awis ti mana artosna,” ucapnya. (Wilda/”PR”)***

Sumber : http://www.pikiran-rakyat.co.id/cetak/2006/032006/14/0211.htm


Terapi Wicara / Speech Therapy

Bidang garap terapi wicara berdasarkan gangguan atau kelainannya, meliputi:

Gangguan Wicara;
  • Disaudia
  • Dislogia
  • Disglosia
  • Disartria
  • Dislalia
Gangguan Bahasa;

  • Childhood aphasia
  • Adult aphasia
Gangguan Suara;
  • Disfonia
  • Afonia
Gangguan Irama/Kelancara;
  • Stuttering
  • Cluttering
Gangguan aktivitas makan & menelan;
  • Disfagia

Baca Juga Yang Ini :